BINTANG JATUH
Aura,
gadis cantik berdarah Indonesia-Jerman yang sangat sempurna. Kulitnya yang
putih, matanya yang biru, otaknya yang cerdas, dan beragam bakat melengkapi
semuanya.
Di
sekolah ini, ia bak seorang bintang. Tak ada yang tidak mengenalnya. Bahkan ia
menjadi murid kebanggaan sekolah karena prestasi-prestasinya. Setiap sudut yang
ia lewati, selalu ada saja yang memanggil namanya.
Kelelahan.
Itu sudah pasti. Siapa suruh menerima semua tawaran itu?
“Aura,
gak belajar sayang?” teriak mama dari ruang televisi.
“Tidak,
Ma. Aura capek! Tidak ada PR kog.”
Beberapa
menit setelah jawaban itu, Aura sudah terlelap dalam tidurnya. Ketika ia
terbangun matahari sudah bersinar dengan terangnya. Ia segera mandi dan
berangkat sekolah.
Seperti
biasanya, banyak siswa yang memanggil Aura ketika ia lewat. Sang Bintang itu
hanya tersenyum sembari menatap siapa-siapa yang memanggilnya.
“Aura!”
panggil Kaesang, teman sekelasnya.
“Iya,
ada apa Sang?” Tanya Aura.
“Sudah
ngerja’in tugas presentasi?” Tanya Kaesang kemudian.
Ya
ampun! Aura lupa kalau hari ini dia ada presentasi pelajaran Bahasa Inggris.
Dia belum membuat file nya. Semalam ia sangat lelah setelah pemotretan,
sehingga tak sempat mengecek pelajaran sekolahnya.
Dia
tertunduk lemas. Ia merasa telah gagal menjadi seorang bintang yang terus
bersinar di langit. Bintang itu telah jatuh. Mau di taruh mana muka Sang
Bintang? Entahlah.
So, guys. Kita harus tempatkan apapun sesuai porsinya.
Jangan sampai hanya karena sesuatu hal yang kita suka
Kita sampai lupa bahwa kita seorang pelajar, yang tugas
utamanya adalah belajar.
Karya : Rachma AS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar